Wednesday, March 23, 2011

KERAGAMAN SENI RUPA TERAPAN MANCANEGARA

KERAGAMAN SENI RUPA TERAPAN MANCANEGARA

Seni kria dapat disebut dengan seni kerajinan yang merupakan bentuk seni rupa terapan. Seni kria

merupakan bagian dari seni rupa yang bertujuan untuk memenuhi kepuasan fisik (seni pakai) dan psikologis (seni

hias/keindahan rasa). Seni kria dikerjakan dengan keterampilan atau kecekatan tangan. Pada umumnya seni kria

dibuat cendrung sebagai barang produksi atau seni industri.

Seseorang pengamat atau pecinta seni dapat menghargai dan menikmati karya seni kria apabila ia mengerti

, memahami dan menilai karya seni melalui kepekaan rasa estetis dan nilai guna. Kemampuan dalam kegiatan

tersebut dinamakan dengan Apresiasi seni. Kemampuan dalam memahami dan menilai karya seni terapan disebut

kemampuan mengapresiasi seni terapan. Apresiasi sangat penting bagi setiap orang yang mau mengerti terhadap

karya seni karena dapat melatih kepekaan rasa, memberi kenikmatan, dan memperkaya jiwa serta memperhalus budi

pekerti.

Menilai Karya Seni Rupa Terapan (Seni Kria)

Menilai suatu karya seni kria, kita harus memahami proses apresiasi seni rupa secara utuh. Proses tersebut

adalah pengamatan, penghayatan terhadap karya, dan pengalaman berkarya seni sehingga dapat menumbuhkan rasa

kagum, sikap empati, dan simpati yang akhirnya mempunyai kemampuan menikmati, menilai, dan manghargai

karya seni.

1. Setiap karya seni rupa mempunyai nilai seni yang berbeda satu sama yang lainnya. Nilai suatu karya sangat

ditentukan oleh kemampuan perupa karya seni itu sendiri yang meliputi:

a. konsepsi atau gagasan;

b. kreativitas dalam penciptaan karya;

c. teknik pengerjaan yang menghasilkan corak tersendiri, namun tetap memperhitungkan sifat-sifat

media/bahan;

d. keunikan dalam pengaturan komposisi dan bentuk sehingga menghasilkan karya yang tampak unik (beda

dengan yang lain).

Kualitas suatu karya selain tergantung dari perupanya juga ditentukan oleh kualitas dan sifat dari media/bahan

yang digunakan. Misalnya sebuah topeng yang dikerjakan dengan bahan kayu pule akan jauh lebih berkualitas

dibandingkan dengan menggunakan kayu meranti.

2. Kriteria Menilai Karya Seni Rupa Terapan (Seni Kria)

Suatu karya seni yang tergolong ke dalam seni rupa tentu dalam pengerjaannya memperhitungkan kaidahkaidah

seni rupa, maka dalam menilai atau memilih suatu karya seni rupa yang baik dan berkualitas diperlukan

apresiasi seni rupa.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berkarya seni rupa dan apresiasinya adalah sebagai berikut:

a. prinsip seni;

b. fungsi seni;

c. komposisi atau unsur seni

Prinsip seni atau asa seni meliputi dua hal, yaitu:

1) Komposisi (susunan)

Apa pun jenis karya seni rupa yang dikerjakan, tidak akan terlepas dari komposisi. Komposisi itu sendiri

adalah susunan. Hasil karya itu akan baik dan indah apabila pengaturan atau penyusunan unsur-unsur seni

rupa dalam satu kesatuan. Unsur-unsur pokok dalam seni rupa adalah titik, garis, bidang, arah, bentuk,

ukuran, warna, gelap-terang, dan tekstur. Seseorang yang menyusun unsur tersebut berarti ia menciptakan

bentuk atau desain. Komposisi dapat dihasilkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengaturan atau

penyusunan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

a) keseimbangan (balance);

b) kesatuan (unity);

c) irama (ritme);

d) kontras (berbeda jauh)

e) serasi (harmony)

2) Unsur-unsur seni rupa

a) Garis merupakan unsur yang dapat memberi batasan atau kesan suatu bentuk, seperti kesan garis

tipis beda dengan garis tebal.

b) Arah merupakan susunan suatu garis atau bentuk menuju kerah tertentu sehingga akan dapat

memberi kesan stabil atau dinamis, seperti arah berbelok-belok berkesan dinamis dan arah

horizontal berkesan stabil.

c) Bidang, ruang (bentuk) juga merupakan kesan batasan suatu bentuk, seperti lingkaran, segitiga,

benjolan, dll.

d) Ukuran merupakan kesan perbandingan suatu bentuk, seperti panjang-pendek, besar-kecil, luassempit,

dll.

e) Gelap terang merupakan efek cahaya yang nampak pada bentuk yang dapat dicapai dengan warna

gelap dan warna terang.

f) Warna merupakan unsur yang dapat memberi kesan secara menyeluruh pada suatu bentuk.

Warna dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:

(1) warna primer (pokok) : merah, kuning dan biru;

(2) warna sekunder (campuran dua warna primer) :

- orange ( merah dan kuning )

- ungu ( merah dan biru)

- hijau ( kuning dan biru)

(3) warna tersier (campuran warna primer dan sekunder) : hijau muda, hijau tua, ungu

muda, ungu tua, orange muda, orange tua.


Penggunaan warna

Penggunaan warna dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu:

a. Warna Harmonis, warna diterapkan secara naturalis seperti warna yang nampak di alam,

misalnya daun berwarna hijau, langit berwarna biru, bunga berwarna merah, dsb.

b. Warna Heraldis, warna yang digunakan dalam pembuatan symbol atau lambing, misalnya

merah berarti berani, putih berarti suci, biru berarti damai, hijau berarti sejuk, kuning berarti

jaya, ungu berarti berkabung, dll.

c. Warna Murni, penggunaan warna secara bebas tidak terikat oleh alam atau makna tertentu,

misalnya pada karya-karya seni modern.

g) Tekstur, merupakan nilai raba dari suatu permukaan (kasar halusnya permukaan benda). Tekstur

ada dua, yaitu tekstur nyata dan tekstur semu.

h) Titik, merupakan unsur yang dapat digunakan untuk memunculkan kesan suatu bentuk, seperti

membuat gambar ilustrasi atau lukisan pointilisme.

Fungsi Seni

Setiap karya seni rupa mempunyai fungsi tertentu, yaitu:

1) Fungsi primer atau fungsi pribadi, yaitu fungsi untuk kepuasan pribadi bagi perupanya;

2) Fungsi Sekunder atau fungsi social, yaitu fungsi untuk kepuasan bagi orang lain yang menikmatinya atau

sebagai media komunikasi;

3) Fungsi fisik atau pakai, yaitu untuk memenuhi kebutuhan fisi

0 comments:

Post a Comment